Didewasakan Keadaan

/
0 Comments
We grow up, we are getting older..
Waktu berjalan dengan cepat ya?

Menoleh 1 tahun terakhir, banyak hal yang seharusnya bisa dituliskan
Iya, banyak yang berubah, drastis.

Saat aku menuliskan ini, aku belajar ikhlas, aku belajar sabar, aku belajar memendam, entah naik kelas entah tidak. Salah satu yang ingin aku tuliskan adalah mengingatkan kalian, bahwa kebahagiaan adalah kunci utama dalam hidup. Kenapa? Hidup ini panjang, sungguh. Aku mengalaminya. 

Tepat 1 tahun yang lalu, aku merayakan kelulusan, 3,5 tahun. Cita-citaku ketika aku jadi mahasiswa baru, tercapai, Alhamdulillah. Aku melewati dengan tidak mudah, kerja rodi hahahahaha ber 4 dengan teman-temanku hingga sampai mengumpulkan persiapan yudisium. Berangkat pagi, pulang sore, tidur malam, pagi-pagi harus berkejaran dengan waktu. Alhamdulillah Allah kasih jalan, lancar tanpa hambatan.. Saat itu, aku percaya bahwa apa yang aku yakini, itulah yang akan terjadi dengan adanya tangan Allah yang ikut, asalkan niatnya baik.

Jadi jobseeker, daftar sana sini yang bermodal iseng, ada sih yang diseriusin tapi tidak tembus semua :"). Pinter bawa ijazah, menghias cv dan menjaga penampilan belum tentu bisa keterima, perlu hoki. Diluar dugaan, aku keterima di salah satu perusahaan yang bisa dibilang hampir semua orang ingin masuk kesini. Alhamdulillah sekali waktu baca pengumuman, tapi seketika itu juga air mata tumpah ruah, banjir hingga pagi. Ada sepercik rasa takut, sepercik yang tiba-tiba muncul, rasa tidak ingin. Takut keluar dari zona nyaman? Bukan, aku bisa membedakannya. Aku menangis semalaman, berhari-hari, tapi apa daya, banyak pihak yang memintaku untuk menandatangani lembar kontrak itu. Yang sama sekali tidak ingin aku sentuh. Bukan aku tidak mensyukuri nikmatNya, tapi aku tau, ketika aku merasa tidak nyaman dengan itu, untuk kedepannya, aku akan merasakan itu seterusnya, ada perasaan tidak nyaman yang selalu menyelimuti.

Lagi, aku berbekal bismillah, aku berbekal restu, aku memutar niatku adalah untuk membahagiakan mereka. Runtuh ketika baru beberapa hari, tangisan pertama yang berlangsung selama berhari-hari, mentalku belum siap, lagi aku mencoba berdamai dengan keadaan, aku belajar lagi sabar. Tangisan kedua ketika aku ada di kota yang cukup sejuk, aku sakit hati dengan perlakuan temanku, tapi ibu ku berkali-kali bilang untuk selalu bersikaplah baik kepada siapapun, Aku mencobanya, lagi.

Sampai akhirnya aku terdampar di kota lain, memperoleh ilmu baru dengan teman-temanku, belajar survive dengan menjadi anak kos ala-ala.Setiap hari dipenuhi dengan canda tawa dengan teman-temanku, i did really enjoy. Dan dipenghujung serangkaian kegiatan-kegiatan tersebut berakhirlah aku di kota ini. 

Hal baru lagi, menjadi anak kos sendirian. Hidup berubah drastis. Yang biasanya setiap bangun aku selalu melihat seseorang entah itu keluarga atau teman, sekarang kosong. Ruangan ini sepi sekali, terlebih ketika aku sedang termenung memikirkan masa depanku, memikirkan aku ke depan, lembar kontrak yang menghantui, hubungan jarak jauh dengan keluarga dan si dia, pekerjaan yang tidak aku sukai. Aku belajar lagi dari nol.

Hal-hal yang tidak aku sukai, datang menghampiriku satu per satu. Terhitung sejak November aku disini, hingga detik ini entah sudah berapa kali aku menitikkan air mata, menandakan kepasrahan dan usahaku menjalani hari-hari baru yang silih berganti seperti badai (lebay, ya)




You may also like

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.